PURBALINGGA — Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif meresmikan gedung rawat inap dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) Puskesmas Serayu Larangan, Kecamatan Mrebet. Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita sebagai penanda selesainya rehabilitasi bangunan yang dikerjakan pada Tahun Anggaran 2025.
Rehabilitasi tersebut menghabiskan anggaran Rp808,452 juta dan menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Purbalingga meningkatkan kualitas fasilitas serta pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Bupati Fahmi mengatakan, sektor kesehatan menjadi salah satu fokus pembangunan daerah karena merupakan bagian penting dari indikator kemajuan peradaban. Menurutnya, pemerintah harus memastikan masyarakat mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang semakin baik, terutama bagi warga yang masih memiliki keterbatasan ekonomi.
“Salah satu fokus pembangunan Kabupaten Purbalingga tahun 2027 adalah sektor kesehatan, sosial dan kesejahteraan,” katanya.

Bupati menambahkan, Pemkab Purbalingga juga berkomitmen mengalokasikan sekitar Rp40 miliar pada 2027 untuk mendukung pencapaian Universal Health Coverage (UHC) non-cut off. Dengan skema tersebut, masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan diharapkan tidak terkendala status kepesertaan yang sedang tidak aktif, sehingga dapat memperoleh layanan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Meski dengan keterbatasan anggaran yang ada, kebutuhan mendasar akses fasilitas kesehatan harus menjadi prioritas di Pemkab Purbalingga,” ujarnya.
Ia mengapresiasi Puskesmas Serayu Larangan yang dalam dua tahun terakhir mencatat nol kasus kematian ibu hamil maupun bersalin. Bupati berharap fasilitas yang telah direhabilitasi dapat semakin mendukung tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Semoga lebih baik lagi kerjanya memberikan pelayanan kepada masyarakat yang datang,” katanya.
Layani Hampir 40 Ribu Penduduk
Kepala Puskesmas Serayu Larangan, Dwi Setiono, mengatakan puskesmas tersebut melayani masyarakat di sembilan desa, yakni Bojong, Lambur, Serayukaranganyar, Serayularangan, Sangkanayu, Campakoah, Binangun, Pengalusan, dan Pagerandong.
Total penduduk yang menjadi sasaran pelayanan mencapai 39.623 jiwa, dengan 26.846 orang di antaranya merupakan peserta BPJS.
Kasus kesehatan yang banyak ditangani meliputi dispepsia, ISPA, serta penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus. Sementara penyakit menular yang menjadi perhatian antara lain TBC, DBD, dan tifus.
Puskesmas Serayu Larangan merupakan satu dari 11 puskesmas rawat inap di Kabupaten Purbalingga. Fasilitasnya meliputi ruang bersalin dengan dua tempat tidur, ruang nifas dengan tiga tempat tidur, serta tiga ruang perawatan yang masing-masing memiliki tiga tempat tidur.
Pemanfaatan tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) saat ini telah mencapai sekitar 50 persen dan menunjukkan tren peningkatan. Sementara layanan persalinan rata-rata menangani sekitar 15 persalinan setiap bulan dengan dukungan kemampuan PONED.

Untuk memperkuat pelayanan ibu dan anak, Puskesmas Serayu Larangan juga mengembangkan inovasi CARLINA (Care Online KIA) berupa konsultasi kesehatan melalui grup WhatsApp serta AMPUH (Antar Jemput Ibu Bersalin/Melahirkan).
Dwi menyebut rehabilitasi gedung tersebut merupakan perubahan besar yang sebelumnya hanya menjadi impian masyarakat dan jajaran puskesmas.
“Ruang rawat inap yang lapuk termakan usia berubah menjadi gedung yang kokoh dengan area parkir luas dan tertata,” ungkapnya.
Selain bangunan yang diperbarui, puskesmas kini memiliki sumber listrik cadangan serta peralatan kesehatan yang diremajakan untuk menunjang tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan dengan fasilitas yang lebih memadai.

Dua Tahun Tanpa Kematian Ibu
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Kabupaten Purbalingga, dr. Jusi Febrianto, menilai revitalisasi Puskesmas Serayu Larangan merupakan bentuk perhatian pemerintah daerah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Ia secara khusus mengapresiasi capaian Puskesmas Serayu Larangan yang selama dua tahun terakhir mencatat nol kematian ibu di wilayah kerjanya.
“Sebagai kepala dinas kesehatan, tugas paling sulit adalah menurunkan angka kematian ibu,” kata Jusi.
Ia juga menyebut Puskesmas Serayu Larangan sebagai puskesmas yang pertama kali menerapkan SPHERES, yang dinilai menjadi salah satu inovasi untuk meningkatkan efektivitas pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat.(Gn/Prokompim)




Recent Comments