PURBALINGGA – Di balik hiruk-pikuk jalanan, sebuah keluarga kecil berjuang menjalani hidup dengan cara sederhana. Setiap hari, Kundriyo bersama istrinya, Priyati, dan dua putrinya, Cahya serta Azizah, berkeliling memulung barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual.
Kamis (27/8/2026), perjuangan keluarga tersebut mendapat perhatian langsung dari Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif. Bupati menemui mereka di sekitar Bundaran Air Mancur Desa Selabaya, Kecamatan Kalimanah, saat keluarga itu tampak baru saja menyelesaikan aktivitas memulung.
Pemandangan empat anggota keluarga dalam satu sepeda tua menyimpan kisah perjuangan tersendiri. Cahya, putri pertama yang berkebutuhan khusus, duduk di bagian depan bersama ayahnya yang mengalami gangguan penglihatan. Azizah berada di bagian belakang bersama ibunya.
Priyati memilih tetap menemani suaminya memulung karena kondisi penglihatan Kundriyo membuatnya khawatir jika harus berkeliling seorang diri. Sementara Azizah selalu ingin ikut ayahnya bekerja dan Cahya tidak memungkinkan untuk ditinggal sendirian di rumah.
Dalam sehari, penghasilan keluarga ini dari memulung rata-rata hanya sekitar Rp20 ribu. Penghasilan tersebut harus dibagi untuk kebutuhan makan, listrik, dan membayar kontrakan Rp200 ribu per bulan. Tak jarang, mereka hanya makan dua kali sehari dan mengandalkan bantuan dari orang-orang yang berbagi rezeki.

Kondisi tersebut mendapat perhatian Bupati Fahmi. Dalam pertemuan singkat di tepi jalan, Bupati berbincang dengan Kundriyo dan keluarganya, menggali kondisi serta kebutuhan mereka. Bupati kemudian meminta jajaran terkait untuk menindaklanjuti kondisi keluarga tersebut.
Atas instruksi Bupati, Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Purbalingga, Suroto bersama jajaran mendatangi kediaman Kundriyo di Desa Klapasawit. Rumah yang ditempati keluarga tersebut diketahui masih berupa bangunan tidak permanen.
Kundriyo dan Priyati sebenarnya memiliki harapan untuk memulai kehidupan baru. Dari tali asih yang selama ini diberikan kepada anak-anak mereka, Priyati berhasil membeli sebidang tanah seluas 9,6 ubin di wilayah Kutasari. Mereka berharap suatu saat dapat memiliki rumah di atas tanah tersebut.
Jika keinginan itu terwujud, Priyati ingin kembali meneruskan kegiatan orang tuanya berjualan di lingkungan sekolah. Sementara Kundriyo berharap tidak perlu lagi setiap hari berkeliling memulung.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, bantuan kemudian diserahkan dari Bupati Purbalingga melalui Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda, termasuk dari PMI, dan Baznas dengan total Rp4 juta. Bantuan diharapkan dapat digunakan untuk kebutuhan sewa rumah, kebutuhan sehari-hari maupun modal usaha produktif.
Selain bantuan tunai, keluarga Kundriyo juga menerima sembako berupa beras, mi dan kebutuhan lainnya.

“Kami mewakili Bupati Purbalingga untuk silaturahmi dengan Mas Kundriyo bersama keluarga. Tadi Mas Bupati juga sudah ketemu beliau di jalan,” ujar Suroto.
Menurutnya, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus dorongan agar keluarga Kundriyo dapat terus berusaha memperbaiki kehidupannya.
“Bantuan ini harapannya bisa untuk sewa rumah, bisa untuk bantuan usaha produktif, misalnya kalau Mas Kundriyo mau usaha dan membutuhkan modal,” katanya.
Kundriyo pun menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang diberikan. “Terima kasih atas bantuannya, Pak Bupati. Semoga bermanfaat untuk saya dan keluarga saya. Terima kasih telah memberikan bantuan untuk modal usaha dan untuk makan sehari-hari,” ujarnya.
Bupati Fahmi juga tengah mendorong semangat kepedulian yang lebih luas melalui program Purbalingga Gotong Royong, yang akan menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Purbalingga mengajak berbagai pihak bersama-sama mengentaskan kemiskinan.(Gn/Prokompim)




Recent Comments