PURBALINGGA — Ketua DPC Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS ) Purbalingga Dimas Prasetyahani langsung menyiapkan gebrakan setelah dilantik. Bersama anggota DPR RI K.R.T. H. Darori Wonodipuro, Dimas akan menggelar pagelaran wayang kulit di Alun-alun Purbalingga untuk menyambut Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober.
“Kami akan berkolaborasi dengan anggota DPR RI K.R.T. H. Darori Wonodipuro mengadakan pagelaran wayang kulit di Alun-alun Purbalingga sekaligus menyambut Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober,” kata Dimas yang juga Wakil Bupati Purbalingga seusai pelantikan pengurus GEKRAFS Purbalingga di Erhanesia Convention Center, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Dimas, pagelaran wayang kulit tidak sekadar menjadi agenda seni dan budaya. Kegiatan tersebut akan diarahkan menjadi ruang pertemuan antara seni budaya, pelaku UMKM, ekonomi kreatif, dan masyarakat.
“Harapannya, dari acara ini seni budaya, pelaku UMKM, ekonomi kreatif, dan ruang publik bisa bertemu dalam satu ekosistem,” ujarnya.
Dimas mengatakan, GEKRAFS Purbalingga ke depan akan memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Purbalingga, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat. GEKRAFS juga akan diarahkan menjadi wadah sekaligus inkubator bagi pelaku UMKM dan kesenian lokal agar mampu berkembang ke pasar yang lebih luas.
“GEKRAFS bisa menjadi wadah atau inkubasi dari para pelaku UMKM dan kesenian yang mungkin saat ini masih berada di tingkat lokal. Kita wadahi untuk ke depannya bisa go national atau go global,” kata Dimas.

Ketua Umum GEKRAFS Pusat Kawendra Lukistian mengatakan Purbalingga memiliki potensi ekonomi kreatif yang kuat. Sejumlah produk dari daerah tersebut bahkan telah terhubung dengan pasar internasional.
“Purbalingga ini sebenarnya memiliki denyut ekonomi kreatif yang kuat. Ada produk-produk yang sudah mendunia, seperti bulu mata, hair extension, dan wig. Ini tinggal bagaimana kita dorong supaya semakin banyak potensi lokal yang bisa naik kelas,” kata Kawendra.
Menurut Kawendra, GEKRAFS di daerah harus menjadi jembatan yang menghubungkan potensi lokal dengan peluang di tingkat nasional maupun global. Karena itu, GEKRAFS Purbalingga diharapkan membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, DPR RI, dunia usaha, komunitas, serta pelaku UMKM dan seni budaya.
“GEKRAFS harus menjadi pipeline. Artinya, potensi yang ada di daerah kita bantu untuk mendapatkan akses, kemudian kita dorong agar bisa masuk ke pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Kawendra berharap keberadaan GEKRAFS tidak hanya memberikan manfaat bagi anggotanya. GEKRAFS , kata dia, harus mampu memberi dampak yang lebih luas bagi masyarakat Purbalingga.(tha/prokompim)




Recent Comments