PURBALINGGA– Desa tidak hanya memiliki potensi sebagai destinasi wisata, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha lokal, dan komunitas kreatif. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani saat membuka Festival Anak Desa ke-6 di Dusun Brobahan, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Jumat (30/10/2026).
Menurut Dimas, festival yang diselenggarakan secara konsisten selama enam tahun tersebut tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni dan budaya, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat desa.
“Kegiatan seperti ini sekaligus membuka mata dan pikiran kita bahwa desa bisa menjadi motor penggerak industri kreatif,” kata Dimas.

Ia menjelaskan, Festival Anak Desa memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Purbalingga. Berbagai subsektor ekonomi kreatif, seperti seni pertunjukan, seni rupa, kriya, dan kuliner, mendapatkan ruang untuk berkembang melalui kegiatan tersebut.
“Pemerintah Kabupaten Purbalingga tentu terus berkomitmen mendukung penuh ruang-ruang kreatif seperti ini. Kita ingin memastikan bahwa ekonomi kreatif berbasis desa dapat terus tumbuh subur, bergerak beriringan dengan kelestarian lingkungan, sejalan dengan filosofi Nandur Banyu yang kita usung hari ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Serang Sugito mengatakan, Festival Anak Desa menjadi salah satu upaya untuk melestarikan budaya Jawa yang mulai ditinggalkan generasi muda. Salah satunya permainan tradisional yang semakin jarang dimainkan anak-anak karena pengaruh penggunaan gawai.

“Melalui kegiatan ini, anak-anak kembali mengenal permainan tradisional seperti egrang, lompat tali, dan kelereng. Ternyata permainan tersebut tidak kalah seru dan menarik dibandingkan permainan di gawai,” kata Sugito.
Festival Anak Desa ke-6 berlangsung selama tiga hari, mulai 30 Oktober hingga 1 November 2026. Selain pertunjukan seni dan permainan tradisional, festival ini juga menghadirkan pasar desa dan stan pangan lokal yang memberikan ruang promosi bagi produk-produk masyarakat.
Menariknya, transaksi di area festival menggunakan alat tukar khusus berupa lempeng kayu berbentuk kotak dengan nominal tertentu. Pengunjung harus menukarkan uang rupiah terlebih dahulu untuk mendapatkan alat tukar tersebut sebelum bertransaksi di lokasi festival.(tha/prokompim)




Recent Comments