PURWOKERTO – Kuliah tidak semestinya berhenti pada upaya meraih ijazah. Bagi Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani, SE MM, bangku perguruan tinggi harus menjadi ruang untuk membentuk keberanian, memperluas jejaring, mengasah keterampilan, sekaligus menyiapkan generasi yang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Dimas saat memberikan materi motivasi bertajuk “Membangun Generasi Adaptif dan Berdaya Saing: Dari Bangku Kuliah Menuju Kontribusi Nyata bagi Masyarakat” dalam kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Klinik Ujian Program Studi FEB, FST, FHISIP, dan FKIP Universitas Terbuka (UT) Masa Registrasi 2025/2026 Ganjil di Kamandaka Ballroom, Hotel Aston Purwokerto, Sabtu (15/8/2026).
Di hadapan 1.200 mahasiswa baru yang ia sapa dengan panggilan “Bro and Sist”, Dimas mengajak mahasiswa tidak menjadikan kuliah sebagai sekadar pengalaman mencoba dunia perguruan tinggi. Sejak awal, mahasiswa perlu memiliki alasan yang jelas mengapa memilih melanjutkan pendidikan dan tujuan yang hendak dicapai.
“Kalian harus teguhkan tekad apa yang menjadi alasan kalian untuk berkuliah D3 atau S1 di UT. Jangan sampai ini hanya menjadi ajang coba-coba untuk mengetahui dunia perkuliahan. Kalian harus mantap dan fokus sampai lulus nanti sebagai seorang sarjana,” kata Dimas.

Menurut dia, keputusan melanjutkan pendidikan tinggi merupakan investasi untuk memperluas kapasitas diri. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan akademik, tetapi juga kesempatan untuk memperluas perspektif, membangun jejaring, dan meningkatkan kualitas lingkungan pergaulan.
Dimas mencontohkan dirinya yang memilih melanjutkan pendidikan karena ingin memperdalam ketertarikan di bidang ekonomi. Menurut dia, materi ekonomi yang diperoleh ketika SMA masih berada pada tingkat dasar sehingga perguruan tinggi menjadi ruang untuk belajar lebih jauh dan lebih mendalam.
“Kuliah itu salah satunya untuk mempertajam ketertarikan kita pada bidang tertentu. Kita belajar lebih banyak dan lebih jauh. Selain itu, kita juga mendapatkan networking dan me-level-up circle kita,” ujarnya.
Tak hanya itu, Dimas mengatakan, mahasiswa juga dituntut memiliki kemampuan yang relevan dengan perubahan zaman, salah satunya kemampuan berkomunikasi di depan publik atau public speaking. Kemampuan tersebut, menurut Dimas, menjadi modal penting untuk menyampaikan gagasan dan menampilkan kompetensi diri.
“Public speaking menjadi salah satu skill yang harus dimiliki. Banyak profesi yang lahir dari kemampuan public speaking. Bagaimana kita menampilkan diri, menyampaikan gagasan, dan meyakinkan orang lain, itu membutuhkan keterampilan,” katanya.
Dimas mendorong mahasiswa untuk tidak takut memulai sesuatu. Ia membagikan motto hidup yang selama ini dipegangnya, yakni “Mulai aja dulu, konsisten pada tujuan, hasil biar Tuhan yang tentukan.”

Sementara itu, Direktur Universitas Terbuka, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., mengatakan karakteristik mahasiswa UT cukup beragam. Rata-rata mahasiswa telah bekerja sehingga mereka menghadapi tantangan tersendiri dalam membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan. Karena itu, mahasiswa UT membutuhkan komitmen serta kemampuan manajemen waktu yang kuat agar dapat menyelesaikan pendidikan hingga wisuda.
“Perlu ada motivasi dan dorongan, baik dari sisi akademik maupun dari lingkungan UT sendiri. Kehadiran para tokoh, salah satunya Mas Wabup, saya yakin ini menjadi penyemangat baru bagi adik-adik mahasiswa,” kata Prasetyarti.
Menurut dia, fleksibilitas pembelajaran UT melalui skema belajar dari mana saja memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi. Namun, fleksibilitas tersebut sekaligus menuntut kedisiplinan mahasiswa.(tha/prokompim)




Recent Comments